Rabu, 29 Februari 2012

titik

titik adalah
saat kita ingin berlari, namun buntu di semua arah
tak ada jalan keluar.
yang ada hanyalah menikmati kebuntuan ini.
it wouldn't be easy. but the show must go on.

Kamis, 23 Februari 2012

23 febuari

Tuhan yang baik,
apakah Engkau sedang bercanda denganku ?


*sudirman, menjelang ashar.

Rabu, 22 Februari 2012

tentang mengejar matahari

Butuh proses untuk pergi. Tidak lantas seperti aku keluar rumah. Panggil taksi. Pergilah aku. Tidak. Aku harus melewati sekian proses. Uda dan aku sudah pernah membicarakan ini. Pastinya akan kuulang dalam hitungan minggu ini. Pertama, pastinya unsur komunikasi. Ini persoalan umum sekali.. Aku akan belajar dengan cepat. Ini soal niat. Kedua, ini juga dilaksanakan bersamaan dengan proses pertama. Aku tetapkan tujuan. Sudah pasti itu. Ini persoalan intensitas dan pendekatan saja. Karena sudah aku pelajari beberapa tahun terakhir. Selanjutnya, berdoa. Pastinya kepada sepasang bidadariku. Papah dan Ibu. Meskipun pada akhirnya nanti mereka tidak akan pernah merelakan keputusan ini. Aku menyadarinya sejak kegalauan pertama. Aku tidak berharap mereka akan memahami ini. Mungkin terlalu sulit. Terlalu rumit. Dan keberlarianku ini tak sejalan dengan alam pikiran mereka. Tapi aku tahu sekali, dalam hati kecil mereka, rasa sayang dan cinta itu tak pernah berhenti barang sedetik. Berkahilah mereka selalu Ya Rabb. Aku masih belum bisa membahagaiakan, meski berulang mereka berkata aku sudah sangat cukup membanggakan. Namun, aku belum juga bisa memberangkatkan mereka ke tanah suci. Tak ada pertolongan lain selain dariMu. Amin.

Ya, meski pada akhirnya aku, tak akan pernah tahu kemana perjalanan ini akan bermuara. Namun hidup ini pilihan. Dan aku sudah memilih. Memutuskan. Itu artinya sepaket. Ya kami akan melakukannya sepaket. Aku. Uda. Dan si kembar. We are all traveler ini this world. Ingat lagu Ari Lasso, selamanya kita tak akan pernah berhenti mengejar matahari…

22 febuari

Sudah kesekian kali. Galau. Aku cuma nggak terima kalau punya bos yang tidak lebih pintar dari aku. Parahnya lagi kalau ketemu sama yg mengatasnamakan sejarah, Indonesia, tanah air, untuk kepentingan pribadi. Aku sudah pernah mengalaminya. Buruk. Sangat buruk. Dan aku nggak mau mimpi buruk untuk kedua kalinya.

Memang aku nggak seputih, sebersih, sesempurna. Tapi aku masi punya idealisme. Mereka juga bisa si ngomong bgini. Seperti yang aku bilang juga. Persis. Bedanya apa ? Secara manusiwai orang akan bilang. Bedanya soal waktu. Mereka mengamankan kursinya. Jabatannya. Sementara aku, karna belum punya pastinya mengamankan diriku sendiri. Kepentinganku. Apa kepentinganku. Nggak ada. Bohong. Seperti berpolitik. Tidak ada yang kawan sejati. Yang ada kepentingan sejati. Begitulah.

Aku hanya ingin berkawan dengan tulus. Tanpa kepentingan. Jadi apa yang musti dilakukan ? Tidak ada.

Aku mau kaya secara financial. Aku tak mau bergantung sama orang lain. Apalagi menggunakan uang rakyat untuk memperkaya diri sendiri. Sedih melihat itu. Honestly. Jika lama-lama aku di sini, tidak menutup kemungkinan aku akan melebur menjadi ‘mereka’. Manusia makhluk yang lemah. Hati tak ada yang bisa menjamin. Hari ini aku bgitu idealis. Besok siapa yang tahu.
Yang musti dilakukan adalah menjaga idealisme.
Jadii .. ide itu melambai-lambai lagi di otakku.
Baiklah, tidak akan lagi aku pertimbangkan. Aku memutuskannya. Sekarang.

Selasa, 31 Januari 2012

merinduimu selalu


aku bermimpi.
rumah mamak.
rumah di tepi pantai.
pesta keluarga.
dan udang barbeque saos lada hitam.
sejenak.
tapi aku bahagia sekali bertemu mamak dalam mimpi.
senyumnya.
hangat.
dan
tenang.
aku sungguh-sungguh bahagia.




*dedicated to mamak, nenekku. ibu dari ibuku.terimalah beliau ya Rabb, dlm khusnul khatimah, amiin. the end of january 2012